Selasa, 08 Desember 2015

Seni Bercocok Tanam (BONSAI)

BONSAI?

Bonsai brasal dari kata bon dan sai yang merupakan tanaman atau pohon yang dikerdilkan di dalam pot dangkal dengan tujuan membuat miniatur dari bentuk asli pohon besar yang sudah tua di alam bebas. Istilah bonsai juga dipakai untuk seni tradisional Jepang dalam pemeliharaan tanaman atau pohon dalam pot dangkal, dan apresiasi keindahan bentuk dahan, daun, batang, dan akar pohon, serta pot dangkal yang menjadi wadah, atau keseluruhan bentuk tanaman atau pohon.
Seni Bonsai membawa kita menelusuri kembali hampir 2000 tahun yang lalu. Kata bonsai terdiri dari 2 karakter Jepang, “bon” & “sai”. “Bon” adalah panci, nampan atau wadah, sedangkan “sai” berarti pohon. Kata Bonsai asli berasal dari kata Cina “P’en Tsai” yang terdengar mirip dengan kata bonsai dan memiliki arti yang hampir sama.
Bonsai memang tidak hanya sekedar pohon dalam pot, namun lebih dari itu merupakan pohon yang telah mengalami sejumlah disiplin hortikultura dan estetika, di mana kematangan visual dan botani yang harmoni tercapai. Inti dari Bonsai klasik adalah untuk menghasilkan representasi miniatur sehat sebuah pohon di alam.
Tantangan utama bagi para desainer bonsai adalah bagaimana mengekspose esensi dari suatu pohon. Seni Bonsai bercerita tentang ilusi hidup, dalam dunia yang miniatur. Artis berusaha untuk menemukan jalan untuk mengekspresikan pribadi dalam batas-batas praktek hortikultura yang baik, dan disertai rasa seni yang tak terbatas.
Seni ini mencakup berbagai teknik pemotongan dan pemangkasan tanaman, pengawatan (pembentukan cabang dan dahan pohon dengan melilitkan kawat atau membengkokkannya dengan ikatan kawat), serta membuat akar menyebar di atas batu. Pembuatan bonsai memakan waktu yang lama dan melibatkan berbagai macam pekerjaan, antara lain pemberian pupuk, pemangkasan, pembentukan tanaman, penyiraman, dan penggantian pot dan tanah. Tanaman atau pohon dikerdilkan dengan cara memotong akar dan rantingnya. Pohon dibentuk dengan bantuan kawat pada ranting dan tunasnya. Kawat harus sudah diambil sebelum sempat menggores kulit ranting pohon tersebut. Tanaman adalah makhluk hidup, dan tidak ada bonsai yang dapat dikatakan selesai atau sudah jadi. Perubahan yang terjadi terus menerus pada tanaman sesuai musim atau keadaan alam merupakan salah satu daya tarik bonsai.
Bonsai dikelompokkan menjadi enam kelompok berdasarkan tinggi tanaman dari pangkal batang hingga bagian puncak tanaman :
·         Raksasa              : tinggi pohon lebih dari 101 cm.
·         sangat besar       : tinggi pohon antara 76–100 cm.
·         besar                  : tinggi pohon antara 46–75 cm.
·         sedang               : tinggi pohon antara 31–45 cm.
·         kecil                   : tinggi pohon antara 16–30 cm.
·         sangat kecil        : tinggi pohon kurang dari 15 cm.

adapun gerak dasar atau bentuk dari bonsai itu sendiri antara lain :
A.    Tegak Lurus / Formal (Chokkan)
Batang pohon tegak lurus vertikal ke atas. Pohon dikatakan memiliki batang yang ideal bila pohon memiliki diameter batang yang makin ke atas makin mengecil, dimulai dari bagian batang yang dekat dengan akar. Pohon dikatakan memiliki dahan yang ideal bila dahan ada di sisi depan-belakang atau kiri-kanan saling bersilangan satu sama lainnya. Jarak antar dahan makin ke atas makin sempit. Bentuk akar ideal adalah akar yang bila dilihat dari atas, menjalar ke segala penjuru.
B.     Tegak Berkelok-kelok / Informal (Moyogi)
Batang pohon tegak berkelok-kelok ke kiri dan ke kanan. Diameter batang makin ke atas makin mengecil dengan keseimbangan kiri dan kanan yang baik. Dahan yang baik adalah dahan yang ada di bagian puncak lengkungan batang pohon. Dahan yang berada di bagian dalam lengkungan dipotong. Dari pangkal batang hingga bagian puncak pohon dapat ditarik garis lurus, dan orang yang melihat tidak merasa khawatir dengan keseimbangan pohon tersebut.
C.    Miring / Slanting (Shakan)
Batang pohon miring ke satu sisi bagaikan terus menerus ditiup angin ke arah tersebut. Bagaikan ada benda yang menghalangi di salah satu sisi, batang pohon tumbuh mencondong ke sisi lain. Ciri khas bentuk ini berupa dahan yang ada hanya di bagian puncak lengkungan batang, dan berselang-seling di sisi kiri-kanan dan depan-belakang.
D.    Tertiup Angin / Wind Swept (Fukiganashi)
Dibandingkan bonsai bentuk Miring, pohon tumbuh sambil mengalami paksaan yang lebih kejam. Batang dan dahan pohon hanya condong ke satu arah. Batang dan dahan pohon yang condong ke satu sisi jauh lebih panjang daripada tinggi pohon yang diukur dari pangkal batang ke puncak pohon.
E.     Menggantung / Cascade (Kengai)
Pohon diibaratkan tumbuh di permukaan dinding terjal yang berada di tebing tepi laut atau dinding lembah terjal. Batang pohon tumbuh bagaikan menggantung ke bawah tebing. Puncak pohon tersebut menggantung jauh hingga melebihi dasar pot. Bila puncak pohon tidak melebihi dasar pot maka bonsai disebut Setengah Menggantung / Semi Cascade (Han Kengai).
F.     Sapu Tegak / Broom (Hōkidachi)
Batang tegak lurus hingga di tengah sebelum dahan dan ranting tumbuh menyebar ke segala arah. Puncak pohon sulit ditentukan dari sejumlah puncak dahan yang ada sehingga bentuk bonsai ini mirip sapu dari bambu. Keindahan bonsai gaya ini dinilai dari percabangan dahan yang rapi, dan titik dimulainya persebaran dahan dan ranting ke segala arah, tinggi pohon, dan keseimbangan unsur-unsur tersebut.
G.    Menonjolkan Akar / Exposed Root (Neagari)
Akibat pohon dipelihara di lingkungan pemeliharaan yang kejam, bagian pangkal akar yang bercabang-cabang di dalam tanah menjadi terekspos ke luar di atas tanah bagaikan akibat diterpa angin dan hujan.
H.    Berbatang Banyak / Clum (Takan)
Dari satu pangkal akar tumbuh tegak lebih dari satu batang pohon. Bila tumbuh dua batang pohon, maka bonsai disebut Berbatang Dua / Twin (Sōkan). Bila ada tiga batang pohon, maka disebut Berbatang Tiga / Triple (Sankan). Bonsai berbatang lima atau lebih disebut Tunggul Tegak (Kabudachi). Batang berjumlah ganjil lebih disukai. Selain bonsai berbatang dua, bonsai dengan batang berjumlah genap tidak disenangi dan tidak dibuat.
I.       Akar Terjalin / Raft  (Netsuranari)
Bentuk ini juga dapat berasal dari batang pohon yang tadinya tegak, namun roboh dan terkubur di dalam tanah. Bagian yang dulunya adalah dahan pohon, berubah peran dan tumbuh sebagai batang pohon. Dari batang pohon tersebut keluar akar, dan akar tersebut terjalin dengan akar pohon asal. Bentuk yang mirip dengan Akar Terjalin disebut Rakit atau Tumbuh dari Batang (Ikadabuki). Bonsai berbentuk Tumbuh dari Batang juga berasal dari pohon yang tadinya tegak, namun roboh dan dahan berubah peran menjadi batang. Perbedaannya dengan Akar Terjalin terletak pada akar yang hanya ada di satu tempat. Seperti halnya bonsai Berbatang Banyak, pohon berbatang genap tidak disukai.
J.      Kelompok / Grouping (Yoseue)
Lebih dari satu pohon ditanam bersama dalam satu pot dangkal atau ditanam di atas batu. Pohon yang ditanam dapat saja beberapa pohon dari satu spesies, atau campuran dari beberapa spesies berbeda. Nilai kreativitas karya dapat ditinggikan dengan perpaduan benda-benda hiasan yang diletakkan sebagai tambahan.
K.    Pohon Sastrawan / Literati (Bunjinki)
Bentuk bonsai ini asal usulnya dari meniru bentuk pohon dalam nanga. Dinamakan bonsai bentuk Pohon Sastrawan karena sastrawan zaman Meiji sangat menggemari bonsai bentuk ini. Pada zaman sekarang, batang kurus, jumlah dahan sedikit, dan dahan pendek juga disebut Pohon Sastrawan.
L.     Tumbuh di Batu atau karang / On the Rock (Ishituki)
Bonsai ini menekankan pohon yang seolah olah tumbuh di batu ataupun karang. Style ini juga terbagi lagi seperti tumbuh diatas karang dengan akar menjalar kebawah (Root Over Rock), batang melilit memutar di batu dengan puncak pohon atau mahkota tidak melebihi ketinggian batu (Drift Wood) dan batang melilit dengan puncak pohon berada diatas batu (Clasping  A Rock).
M.   Pohon Tak Lazim (Kawariki)
Bentuk ini dipakai untuk menyebut bonsai yang tidak dapat digolongkan ke dalam bentuk-bentuk bonsai yang lazim.
Pohon yang paling umum dibonsai adalah berbagai spesies pinus. Jenis tanaman dan pohon dipakai untuk mengelompokkan jenis-jenis bonsai:
1.      Bonsai pohon pinus : tusam, cemara cina, cemara duri, sugi, dan lain-lain.
2.      Bonsai pohon buah untuk dinikmati keindahan buahnya (Ilex serrata, kesemek, Chaenomeles sinensis, apel mini, dan lain-lain).
3.      Bonsai tumbuhan berbunga untuk dinikmati keindahan bunganya (Prunus mume,Chaenomeles speciosa, sakura, azalea satsuki).
4.      Bonsai pohon untuk dinikmati bentuk daunnya (maple, Zelkova serrata, Rhus succedanea, bambu).
5.      Ada banyak sekali tanaman tropis yang telah dicoba dan ternyata cocok untuk dibonsai, di antaranya asam jawa, beringin, cemara udang, waru, dan jambu biji.
Perlu di ingat bahwa dimanapun dan apapun itu tidaklah terlepas dari sebuah proses. Bonsai berasal dai pohon. Pohon itu sendiri adalah makhluk hidup. Untuk membuat sebuah bonsai yang baik dan indah, dibutuhkan ketelitian, skil dan tak lupa kesabaran. Karena bonsai ini merupakan sebuah seni yang akan terus berjalan.
Sekian pembahasan singkat mengenai ‘bonsai’ dari penulis.
Terimakasih



Terimakasih


Sumber :
https://id.wikipedia.org/wiki/Bonsai

http://bonsai-indonesia.com/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar